dia terlalu hitam, untuk sekitarnya yang penuh warna warni.
dia terlalu berisik, untuk sekitarnya yang sunyi.
dia terlalu berantakan, untuk sekitarnya yang tertata.
kali ini, masalahnya ada pada dirinya, dan untuk membaginya pada yang lain, tentu saja dia tidak akan sampai hati. ia tau ini terlalu berat, sekalipun untuk ditopang bersama. dia paham sekali bahwa setiap insan memiliki masalahnya sendiri. oleh sebab itu, ia memilih untuk menyimpannya- pada tumpukan kotak bekas digudang atas yang penuh dengan debu dan sarang laba-laba.
meski yang selalu terucap adalah kalimat "tidak apa-apa" tapi bukan berarti ia tidak mengatakan ini semua menyakitkan. mengemis pada orang lain untuk mengerti adalah hal yang percuma untuk dilakukan. pahit ujungnya.
tidak ada yang mau menerima rumah seberantakan dia. pecahan kaca dimana-mana, lantai penuh darah, hingga dinding yang dihiasi retakan abstrak. jelas tidak ada yang akan menyukai rumah ini. tampak dari luar saja sudah cukup mewakilkan isinya. bahkan mungkin orang yang pernah melewatinya, saat kali kedua memilih untuk melewati jalan lain saja. rumah itu penuh aura kegelapan katanya.
jika ada pilihan untuk menata rumah ini, tentu akan menghabiskan banyak waktu. hanya membuang-buang waktu dan menimbulkan lelah. belum selesai tertata, tamunya sudah keburu pergi lagi. melelahkan ujarnya, dan akhirnya rumah ini kembali berantakan. takdir atau kutukan? sudah banyak sekali korban dari rumah ini, mereka yang dengan sukarela ingin berpartisipasi untuk menata rumah ini kembali berharap bisa merubahnya menjadi istana, namun nyatanya?
rumah ini terlalu dipenuhi kenangan buruk, sekalipun ada kenangan baik mungkin hanya teringat sesaat. sisanya akan tertutup dengan segala keburukan yang kemudian datang bertubi-tubi. sangat mudah untuk melupakan kenangan baik yang pernah hadir, tapi untuk sekedar tidak memikirkan kenangan buruk yang ada saja sulit. bahkan untuk seorang pelupa sepertinya. tak heran jika rumah ini berwarna hitam. mungkin warna lain enggan untuk sekedar mampir.
beragam tragedi terjadi dirumah ini, sakit menyakiti, bahkan hingga bunuh membunuh. bagaimana dengan tragedi baik? renyah tawa mungkin? tentu ada. namun yang lebih banyak adalah tawa dari sisi pemilik yang lain, menertawakan mirisnya rumah ini. sama-sama tawa bukan?
memang sebaiknya rumah ini tak berpenghuni. karna rumah ini penuh kesalahan, amarah, hingga dendam. pemiliknya saja enggan untuk merawatnya. ia lebih memilih membuang satu persatu isi rumah ini. hingga perlahan, rumah ini menjadi kosong. sebagaimana mestinya.
rumah ini tak pernah pantas untuk menjadi tempat pulang, tempat tinggal, sekalipun tempat singgah. jelas ini tak pantas untuk disebut rumah.

Komentar
Posting Komentar