balkon ini menjadi saksi saat dimana aku menghantarkan matahari pulang. dari biru, jingga, hingga menjadi kelam. satu persatu pelita menyala, menerangi seisi kota. perasaan kali ini berbeda dari biasanya, duduk dengan rasa sesak memenuhi rongga dada hingga cekat di tenggorokan. namun harus tetap mengukirkan senyum didepannya, ini adalah part yang terberat. berlagak seakan dunia ku hari ini baik-baik saja, meski nyatanya hari ini semuanya rasanya tak bisa dideskripsikan. langkah yang begitu berat, bahu yang rasanya tak lagi sanggup menahan beban dan dunia yang rasanya perlahan akan runtuh.
tidak ada yang menyukai kegelapan ya, Ra?
tidak ada Bian, kegelapan hanya membuat semuanya bisa kehilangan arah.
pandangan ku tak sedikit pun teralihkan, aku menjawab pertanyaannya dengan terus menatap langit saat ini. berusaha untuk menahan agar tak setetes pun bulir itu jatuh di pelupuk mata.
"itu yang ku rasakan kini Bian, entah kemana lagi arah yang ingin aku tuju. jalan ku kali ini gelap gulita, tak sedikit pun ada penerangan di sepanjang jalan ini. andai kamu tau semuanya, Bian." ucap ku dalam hati.
kami kembali membisu, menatap langit yang kini perlahan terdapat bintang yang mulai menampakkan dirinya, mengisi langit dan menemani bulan. persembahan dari Tuhan yang ku sukai selain senja.
"entah apa yang memenuhi isi kepalamu malam ini, Kira. ragamu tak sepenuhnya disini. mata mu tak sepenuhnya menatap langit. andai aku bisa menyelami isi kepalamu itu, Kira." batin Bian.
tadi, kepada langit ku sertakan luka bersama matahari untuk dibawanya pulang. dan kuharapkan pula pada langit untuk menggantinya kembali dengan bahagia seperti tebaran cahaya malam ini.

Komentar
Posting Komentar