tersimpan

jika ditanya apa kelebihan yang aku miliki, dengan lantang aku ingin menjawab "menyimpan rasa tanpa suara". entah mengapa aku bangga dengan keahlian ku yang satu itu. aku mampu membawa rasa yang tersimpan ini melanglang buana tanpa ada satupun insan yang tau, terkecuali aku dan Dia yang merasakan seberapa hebat getarannya. seberapa lama aku mampu menyimpannya? sampai aku sendiri yang ingin mengungkapnya, yang entah kapan. 

seperti yang saat ini sedang ku rasakan, aku menyimpan rasa pada satu insan di dunia ini yang dahulunya pernah menempuh pendidikan di bangku sekolah yang sama. meski dalam ruangan yang berbeda dan beda jurusan pula. tapi aku kerap kali memperhatikannya dari sudut tertentu. sosok yang ku tau berkepribadian seperti kulkas 3 pintu, dingin sekali. aku bahkan tidak tau apakah dia tau bahwa ada aku disekolah itu. 

entah mengapa dari sekian banyak insan, aku malah menyukai dia. tak saling kenal, tak saling sapa. aku lebih tertarik untuk memperhatikan dia yang bahkan aku tak tau siapa nama yang kerap dia sebut sehabis sujudnya. aku tak tau pada siapa ia menaruh hati dan harapnya, aku hanya tau bahwa aku menaruh hati padanya namun menaruh harap pada Tuhan nya. aku membisikkan namanya kepada Dia. lagi-lagi aku tak paham mengapa ini terjadi, tapi yang pasti aku nyaman dengan hal ini. 


bukannya aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan setiap rasa yang aku punya atau yang biasa mereka sebut dengan pengecut. hanya saja aku rasa dengan seperti ini aku tidak perlu repot-repot menaruh harap pada insan lain, sebab aku tau hal itu hanya akan menjadi boomerang untuk ku sendiri. dan itu akan menyakiti. jadi aku memilih cara ini, menunggu jawab-Nya apakah hal ini patut untuk aku perjuangkan lebih jauh atau tidak. aku mempercayai-Nya untuk menjawab semua bisikkan ku disepertiga malam belakangan ini. 

suatu saat jika kamu membaca ini, percayalah bahwa aku bahagia melakukan ini meski entah kapan akan berujung. aku ada didalam damai. aku mempercayakan semuanya pada semesta, sebab suatu saat Dia akan menjawab apakah kami pantas untuk menjadi saling? 

Komentar