semenjak tidak ada lagi kita, aku merasa cukup lepas. aku merasa penuh sekarang. aku pun mulai mencintai yang lain, diriku sendiri. aku cukup mengenalnya kini. secangkir kafien pun rasanya cukup untuk satu hari. berbeda dari aku yang lalu, saat dimana masih ada kita.
mari kita sedikit memutar waktu...
gelagat tawa memenuhi ruang kosong ini, satu hari saja rasanya tak cukup untuk beradu kisah. lelucon yang kamu lontarkan pun tak ada habisnya. kita terus berlomba mencari-cari siapa yang lebih dahulu mendapatkan topik pembicaraan. lucu sekali. dunia serasa milik kita sekarang.
dan saat yang tak ingin ku rasakan pun hadir. saat dimana kamu berkuasa penuh atas diri ini. kamu yang memegang remote controlnya. sedikit saja aku berulah, tak berat rasanya bibir itu mengucap. sumpah serapah. kamu tak pernah melirik ku, begitu katamu.
hingga akhirnya, aku tak lagi merasa ada didalam kita. aku merasa hanya ada kamu disini. aku tak lagi merasa cukup, tak lagi merasa terisi atau bahkan penuh. aku selalu merasa kurang, tak cukup. tak ada lagi yang ku kenal disini, bahkan diriku sendiri. aku merasa kehilangan semuanya. dan kamu putuskan untuk menyudahi semua ini.
kamu yang berjanji takkan menyakiti, nyatanya memiliki kekuatan yang hebat juga untuk menghancurkan. lebur tak bersisa. sakit tak terampunkan. aku kini bagaikan angin lalu, yang tak pernah ada satupun yang tau bagaimana wujudnya.
aku masih ingat sekali jawaban mu saat itu; ternyata aku belum siap, kita sudah ya, maaf.
satu malam tak cukup ku habiskan untuk menangisi semuanya. tak pernah ada penyesalan mengapa sempat ada kita. hanya satu pertanyaan yang terus memenuhi isi kepala ku saat itu; kurangnya aku apa?. sebab aku tak pernah mengucap tidak untuk setiap inginmu. tak pernah cukup satu cangkir kafein untuk menenangkan, saat semuanya terasa tak lagi bernilai. sekeras apapun aku berjuang, takkan ada artinya. sebab nyatanya, bukan aku yang ingin kamu tuju.
namun kini aku sadar bahwa ternyata,
aku tidak akan pernah cukup untuk seseorang yang selalu merasa kurang.
dan setidaknya kini aku belajar untuk tidak membelakangi diriku sendiri.

Komentar
Posting Komentar