kau kembali mengetuk pintu, dengan harap aku keluar dengan memberikan pelukan terhangat yang seperti biasanya. sebab, diluar terlalu dingin katamu. aku mempersilahkanmu untuk masuk, lagi. kau berjalan mengitari seluruh rumah, memperhatikan setiap sudut, kau berfikir takkan kau temukan perubahan dirumah ini, namun ternyata kau salah besar. telah banyak perubahan disini, sudah tak lagi usang dan nuasanya pun berbeda dari kali terakhir persinggahanmu.
"silahkan duduk" kataku dengan senyum simpul. tak sehelai kain pun aku berikan untuk menghangatkan tubuhmu yang menggigil itu. "rumah ini telah banyak berubah, namun tetap hangat" katamu yang lambat laun berhenti menggigil. hatimu dipenuhi tanya, mengapa disini selalu saja menjadi tempat terhangat dan ternyaman saat kau tengah lelah dan membeku karna dinginnya dunia luar.
kau tak mengerti mengapa rumah ini rasa nya masih sama namun dengan nuansa yang tak lagi kau kenali. dan perlahan kau pun menyadari, tak lagi kau temukan sosok rapuh yang dulu kau lihat didalam diriku. tak lagi ada sambutan sendu yang kau dapatkan, "kau nampak begitu bahagia" pujimu padaku.
kita kembali berbincang-bincang, kau menceritakan bagaimana kejamnya dunia luar. yang selama ini tanpa henti bergantian menyakitimu. namun tak kau temui tempat untuk berlindung dan mengadu duka. kau sendiri dan sepi katamu. aku perhatikan lamat-lamat matamu, nampak sayu. tampak sekali kau menyimpan banyak airmata didalam sana yang sepertinya tak lama lagi akan tumpah.
benar saja, bulir airmata pertamamu pun jatuh. sendu sekali. kau menceritakan segalanya ditemani derai airmata. dan aku tetap pada posisiku, diam tercengang mendengarkan kisah mu kali ini. dan akhirnya kau pun mengucapkan kalimat itu "apakah kau sudah melupakan semuanya? kau nampak tenang dan damai kali ini. sangat berbeda dengan kondisiku kali ini." katamu. tak sepatah katapun terucap, hanya segaris senyum yang ku lontarkan untuk menjawab semua pertanyaanmu kala itu.
dengan langkah gontai, kau berjalan menuju pintu. "aku pamit dan maafkan aku" katamu mengkhiri pertemuan malam itu.
Komentar
Posting Komentar