akhir dari kisah yang belum dimulai

semesta sepertinya sedang tidak baik-baik saja sore ini, awan kelabu menyelimuti langitnya sejak tadi. sang mentari sudah bersembunyi padahal jelas saja ini belum waktunya, semesta sepertinya ingin bergegas menutupi hari kali ini. mungkin banyak yang melukai semesta hari ini, hingga terlihat nya seperti murka. angin meniup ranting pohon begitu kencang. seperti rasanya ada yang ingin tumpah sore ini. 

aku ingin membahas tentang aku dan kamu yang bahkan belum sempat menjadi kita. yang ceritanya harus sesegera mungkin aku akhiri, meski nyatanya mulai saja belum. tapi tak apa, ini mungkin jalan yang terbaik. sebab tak selamanya pula kita bisa memilih yang terbaik, meski kita terus mencoba menjadi yang terbaik. 

mungkin lebih tepatnya tak bisa untuk dimulai, sebab kamu belum berdamai. dan aku begitu takut untuk sebuah resiko. lagi-lagi malang sekali nasib seorang aku, yang menaruh hati bukan pada tempatnya. dan yang lebih malang lagi, aku masih menjadi sosok yang pengecut. hanya menyuarakan rasa ini dalam diam, belagak seperti orang yang sama sekali tidak memiliki gairah dalam percintaan.

dan akhirnya semua rasa hanya tertumpah disini. padahal ingin sekali berdiri dihadapan mu lalu berteriak sekencang mungkin mengatakan bahwa aku menaruh hati padamu, lucu bukan? lagi-lagi sebuah kemustahilan yang sering kali ku semogakan. tapi begitulah nikmatnya hidup dalam khayalan. dunia yang bisa kita hias sedemikian rupa dengan cerita yang dikarang penuh dengan impian. berharap suatu saat salah satu yang diukir menjadi kenyataan.


teringat kali pertama kita bertemu, bibir ini seakan kelu. lutut ini rasanya tak lagi bertulang, lunglai. aku tak pernah membayangkan betapa beraninya aku untuk pertemuan itu. saat itu, kali pertama pula aku menyaksikan secara langsung penampilan mu, indah. suara mu begitu menenangkan. namun saat kamu duduk dihadapan ku, menceritakan masa lalumu. nampak sekali luka itu dimata mu. mata mu menjelaskan betapa hancurnya kamu kini. mata mu tidak bisa berbohong meski kamu tertawa sekencang-kencangnya malam itu. senyummu tak mampu menutupi pahitnya kisahmu. dan saat itu pula aku memutuskan untuk tidak melangkah maju. sebut saja aku pengecut, sebab lebih dulu mengibarkan bendera putih sebelum berperang. 

meski sejak pertemuan itu, rasa ini menjadi nyata.
dan sejak pertemuan itu pula, aku memilih tak melanjutkannya. 

Komentar