selama ini aku selalu menutup telinga kala hari-hari ku dipenuhi dengan ucapan tak mengenakan yang diceritakan oleh mereka. aku memasang kuda-kuda untuk hubungan ini. membantah rata ucapan mereka. mengatakan bahwa kita akan baik-baik saja, padahal jauh di lubuk hatiku tentu sakit rasanya. ku harapkan omongan mereka hanya omong kosong.
tapi ternyata apa yang selama ini aku korbankan tak cukup untuk membuat mu tetap disini. sampai akupun mati kutu, entah cara yang seperti apa lagi yang harus ku coba. aku kehabisan akal. memang benar, jika hanya aku saja yang mati-matian membuatmu bertahan, hubungan ini takkan berhasil. kita pun bertemu pada semua pisah. dan benar bahwa ternyata bukan kapasitas manusia untuk merubah seseorang.

dan akhirnya aku sampai pada titik dimana aku menemukan pembuktian yang ku resahkan selama ini. kepercayaan ku pun mulai runtuh, tak bersisa. jelas sekali terpampang nyata pengkhiatan didepan mata. asumsi orang akan permainan mu selama ini ternyata benar adanya. bahkan bukan satu atau dua orang saja lawan main mu selama ini. dan bodohnya aku yang terlalu memberikan kepercayaan itu mentah-mentah.
yang ku sesali bukan lah perpisahan ini, melainkan waktu yang selama ini ku habiskan hanya demi menanti pengkhianatan ini. waktu dimana aku menepis semua orang yang perduli demi mempertahankan satu orang yang jelas-jelas bertopeng selama ini. memang benar waktu akan terasa jika sudah habis.
tak ada kata maaf untuk pengkhiatan bukan?
Tuhan begitu baik pada aku yang begitu kurang ajar ini, menyadarkan bahwa aku tak pantas untuk bersanding dengan pengkhianat. salah ku yang terlalu. beruntungnya aku akan tamparan ini. takkan lagi ku habiskan waktu ku untuk menangisi semua ini, sudah cukup waktu yang terbuang demi menyayangi orang yang tidak tepat. pengkhiatan ini menangguhkan sosok aku. menyadarkan bahwa ternyata segala yang berlebihan itu memang tak baik. ku harap tak ada "aku" yang lain lagi.
selamat tinggal,
maaf dan terima kasih.
salam dari hati yang kau sakiti.
Komentar
Posting Komentar