menaruh perasaan pada mu sama halnya dengan menanam sebuah luka, begitupun dengan mencintaimu adalah sama halnya dengan menunggu bom waktu. yang entah kapan tapi pasti akan meledak menghancurkan segalanya. dan itu pasti sangat menyakitkan, tentu aku belum siap untuk hal itu lagi, belum siap untuk patah lagi, entah untuk yang keberapa kali.
kucintai kamu yang tempat ibadahnya berbeda salahkah? ku rindukan sosok yang ternyata kitab sucinya berbeda dengan yang ku baca salah kah? bukannya seharusnya perbedaan itu indah ya? tapi perbedaan kita kali ini tentu hanya akan menjadi pisau yang diasah, semakin tajam dan harus semakin berhati-hati atau pilihan lainnya, akan ada yang terluka.
tapi seperti biasa, aku tak ingin munafik. aku ingin membebaskan hati ku, tak ingin mengekangnya. membiarkan ia bebas, melalang buana entah kemana ia ingin.
tapi hingga detik ini, tenaga ku belum terkumpul untuk mengungkapkan rasa ini, hingga saat ini semua rasa masih tersimpan rapat. menjadi rahasia kecil ku dengan Tuhan. entah sampai kapan. sebab, akupun tak tau dengan cara apa mengungkapkan rasa ini. tapi yang ku tau, mengungkapkan segalanya tak harus dengan kalimat "aku menyukaimu", menyebut namamu disepertiga malam dengan mengharapkan segala kebaikan selalu mendampingimu juga termasuk mengungkapkan rasa dan menuliskan kisah tentang mu pun sama hal nya, sebab bagi ku mengungkapkan rasa bukan berarti sang tujuan harus mengetahuinya.

Komentar
Posting Komentar