ternyata, tak semudah itu.



ternyata melepaskan tak semudah yang dibayangkan ya? tak seperti yang orang-orang katakan. dan tak semudah yang aku duga. kali ini aku mengaku salah. tebakan ku salah, salah akan kemampuan ku yang aku kira bisa akan segalanya. lebih tepatnya memaksa untuk bisa akan semuanya, termasuk melepaskan apa yang ternyata tidak digariskan untuk ku.

jarak kita pun sudah sejauh ini, renggang. seolah-olah tak saling kenal, padahal pernah saling mencinta. lucu sekali. oh ya sepertinya tidak pantas lagi untuk disebut kita. kau dan aku pun tak lagi berjumpa, entah kapan terakhir pertemuan diantara aku dan kau. padahal biasanya tiada hari tanpa tegur sapa, canda tawa, bahkan kasih mengasihi. secepat itu ternyata roda berputar.

kini kau sudah punya dunia mu sendiri, aku pun sama. tapi lebih tepatnya aku berusaha mencari dunia ku sendiri, yang ku harap tak ada kamu disana. kau tau? entah mengapa hingga kini aku masih merasakan kau ada disini, tak kenal waktu dan tempat. aku merasakan ada yang masih bertautan diantara aku dan kau, entah apa. aku masih merasakan bahwa frekuensi ini belum terputuskan, iya rasa-rasanya masih tersambung.

awalnya aku mengira semuanya hanya tentang waktu. tinggal menunggu waktu, semua nya akan mati rasa. tapi bukan kah mati rasa juga merupakan rasa? lantas apa? hingga detik ini aku masih merasakan semuanya, seolah-olah semua nya nyata. padahal tentu saja tidak. apakah masuk akal selama berbulan-bulan ini aku terus saja berhalusinasi? ku rasa tidak masuk dilogika. tapi bisa juga iya.

cinta, kasih, rindu, dan tentunya luka masih nyata rasanya. bekasnya luar biasa, hingga kini menjadi toxic. dan hingga kini aku masih belum bisa menjawab semua pertanyaan yang aku sendiri lontarkan. dan entah sampai kapan...

Komentar