
nasib sekali menjadi sosok aku,
mencinta dalam diam,
merindu dalam sunyi,
memperhatikan dalam jarak,
mengharap dalam semu,
euforia rasa ini selalu riuh kedengarannya. semangat akan temu selalu saja berhasil melemahkan persendian kala semuanya terwujud. suaramu begitu meneduhkan. cara mu berbicara selalu saja berhasil menenangkan, namun saat jarak diantara aku dan kamu begitu dekat, tatap itu berhasil membuat ku menunduk dan entah mengapa tangan ini spontanitas bergetar, dada berdebar seakan-akan aku baru saja lari sejauh 5 km.
lagi-lagi semuanya hanya bisa terungkapkan melalui tulisan ini. tentu kamu tidak akan membacanya. aku sangat malu sekali jika kau berhasil membongkar ini. ejekan-ejekan kecil dari teman-teman mu mampu membuatku tersipu, merah padam. tapi aku suka dan aku tidak ingin munafik.
bisakah sosok aku dan kamu berubah menjadi sosok kita? boleh tidak?
aku tak tau kau kini sedang berdua atau sendiri, yang aku tau kini kau berhasil menerobos benteng yang telah ku bangun kini. melesat begitu cepat dan duduk diruang tamu, membuat ku terpaksa dengan senang hati menyajikan sajian yang menurutku paling lezat, agar kamu bisa menetap. tidak hanya singgah seperti yang lalu. sebab penyakit hati ini begitu membosankan.
aku bosan untuk patah, bosan untuk menyusun kembali potongan puzzle yang dulu pernah terhambur berserakan. butuh waktu yang cukup lama untuk menyusun nya agar utuh kembali. walaupun akhirnya aku sudah tau. bahwa lelahnya tidak akan membuat semuanya terasa sama seperti dulu. ku harap kamu tak sama, ku harap kamu berbeda. semoga ya.
Komentar
Posting Komentar