
satu persatu bata kokoh perlahan-lahan telah ku susun. iya, untuk memperbaiki rumah yang pernah hancur. walaupun hanya secercah harapan akan rumah ini megah kembali. setidaknya masih ada sebuah kemungkinan.
tentu bukan hal yang mudah. namun jika tak ku coba, rumah ini akan terus-terusan tak layak huni seperti ini. padahal ini rumahku, kau adalah tamu, namun mengapa sangat mudah bagimu dengan tanpa dosa menghancurkan kepemilikan ku? aku meminta mu untuk merawatnya, bukan mengerogoti tiap sudut yang ada seperti rayap. setelah hancur berkeping, dengan ringannya langkahmu pergi mencari rumah baru dan tak kembali hingga kini. lalu tinggal lah aku seorang diri memperbaiki ulahmu.
ironisnya aku pun takkan bisa memaksamu untuk menetap, sebab kau hanya tamu. sungguh tidak sopan rasanya jika tuan memaksakan seorang tamu. aku telah berusaha sebaik mungkin untuk menjamu mu dengan penuh kasih. dan mirisnya tak terbalas.
tak ada lagi gunanya sebuah penyesalan, hidup akan terus berjalan dan bumi akan terus berputar. mereka takkan menunggu ku walau hanya 1 detik saja. oleh karena itu, aku pun harus berjalan maju, tanpa membawa satupun kisah dimasa lalu, meninggalkannya sesuai pada tempatnya.
sudah sering ku jelaskan bahwa membiasakan diri di lingkungan baru bukan lah hal yang mudah, tapi hingga saat ini masih terus ku coba. karna katamu, hal yang terjadi kini adalah yang terbaik untuk ku. walaupun faktanya itu hanya terlihat seperti sebuah omong kosong. tak apa.
kalaupun suatu saat kamu ditakdirkan untuk kembali, yakin ku cuman 1 yaitu saat itu datang adalah saat yang terbaik. aku tak berharap. sekarang aku hanya mencoba melihat segalanya dari berbagai sisi, dari berbagai cara pandang. iya, belajar dari pengalaman.
Komentar
Posting Komentar