Langit kembali membasahi kota malam ini. Membasahi setiap
sudut tanpa celah sedikitpun. Memanggil ku untuk menikmati setiap tetes yang ia
jatuhkan. Klakson terdengar bersautan, membuat telinga ini sedikit pengang.
Semua kendaraan seperti berlomba-lomba ingin lebih dulu sampai ke tujuan
mereka. Entah ini sudah menjadi malam minggu keberapa yang aku lalui tanpa mu. Tentu
aku tak ingin menghitungnya. Sebab, sangat amat terasa jika aku menghitungnya.
Kini akupun telah melewati banyak rasa tanpamu. Jatuh bangun
tanpa adanya sosok kamu disampingku lagi seperti hari-hari sebelumnya. Segala macam
cara telah ku coba untuk membiasakan diri. Beradaptasi dengan keadaan yang
sekarang. Berusaha membuka mata akan kenyataan yang ada. Cukup sulit dan cukup membuatku merasa tertantang. Tapi aku sudah tak
punya pilihan lain. Sebab berlari pun sudah pernah ku coba, namun hasilnya hanya
membuatku semakin terpuruk. Dan yang pada akhirnya membuatku menyerah dan
tersadar, bahwa seharusnya yang aku lakukan adalah menerima semua rasa sakit. Memberikannya
pengakuan.
Aku takkan lagi mencoba berpura-pura bahagia, takkan lagi
bersusah payah untuk menutupi segala luka. Aku akan membiarkan diriku
berekspresi sesuka hatinya. Sebab kau pun sama, bebas berekspresi sesuka
hatimu. Aku akan membebaskan perasaan ini, bergerak kemanapun ia ingin. Tanpa
ada yang mengekangnya sedikitpun.
Dan akhirnya kini aku sudah mendapatkan kembali rasa caramel
macchiato ku yang dulu. Yang sempat hilang entah kemana, yang berubah entah
menjadi apa. Dan akupun sudah merasakan atmosfer tempat ini kembali. Itu artinya
perlahan aku sudah mendapati aku yang dulu. Ya walaupun masih dalam bentuk proses.
Tapi bukan kah kita harus menikmati sebuah proses?
Hati kini sedang tidak dalam keadaan berkabung. Tapi tak
menutup kemungkinan untuk aku menceritakan tentang hal ini. Kembali pada tujuan awal,
membiarkan diri berekpresi dengan semua imajinasi yang ada. Salah satu bentuk
pengapresiasian diri.

Komentar
Posting Komentar