mengapa semua hal yang menyangkut dirimu begitu mudahnya menjadi candu bagiku?
notifikasi,
suara,
tawa,
canda,
dan...
senyum.
semua tentang mu, tentang apa yang ada pada dirimu, tentang apa yang kau lakukan, tentang apa yang kau sampaikan.
yaps!
aku rindu.
mengapa jarak ini begitu menguji?
frekuensi kita sama tidak? hmmm maksudku apakah kini kau merasakan hal yang sama?
padahal jika ditelusuri, kita ini apa sebenarnya? jangankan kita, aku dan kamu saja sepertinya terlalu asing. tak lebih dari seorang teman, tak seakrab seorang kawan. itu kita. kerap kali realita menentang ekspektasi. seakan-akan menyuruh diri untuk berhenti berkhayal, tak lagi bermimpi, menahan diri untuk berharap.
rindu balasannya temu bukan? namun jangankan untuk sebuah temu, untuk saling menyapa dikolom chatting saja tak mudah. aku tak ingin membuat mu terusik. jadi sakitnya rindu yang tak terbalas kini menjadi rindu yang tak mampu tersampaikan. apakah aku salah? merindukan seseorang yang pada kenyataannya tak lebih dari seorang teman? rindu pada sosok yang tak ada lelah-lelahnya mengundang tawa?
raga sulit menggapai karna kini kita terpisah pulau. denting smartphone yang muncul selalu membuatku menerka-nerka bahwa itu notifikasi dari mu atau bukan. story yang kau unggah di media sosial menjadi salah satu obat dari rasa ini. seketika aku menjadi stalker yang handal hehe. tapi dengan duduk manis memperhatikan setiap unggahan mu saja itu tidak akan cukup. rasa ini terlalu membandel. dan sasaran akhirnya alasan tulisan ini.
kita dibawah langit yang sama, dan aku kerap kali menyampaikan semuanya pada semesta. dengan harap kelak semesta akan menyampaikannya dengan mu si pemilik rindu ini. karna kau mengetahui rasa ini saja sudah cukup untuk ku. masalah untuk membalasnya biarkan itu menjadi urusan mu. sebab memiliki rasa ini saja sudah sangat beresiko untuk ku dan kini aku yang harus bertanggung jawab sendiri untuk hal ini.

Komentar
Posting Komentar