Aku ingin bertanya, siapa yang bisa menduga tentang
pertemuan ini?
Aku?
Kamu?
Dia?
Mereka?
Baiklah akan ku jawab sendiri. Tuhan.
Kala pertama aku melihatmu, aku
tidak pernah menyangka ternyata akan seperti ini. Aku yang awalnya tidak
berniatan untuk berekspektasi apa apa tentang mu, entah mengapa pada akhirnya
harus dihujam perasaan ini. Tidak bisa disangkal, aku kalah dengan ekspektasi
ku sendiri. Benar kata pepatah, terkadang
ekspektasi tidak selalu sesuai dengan realita.
Aku tau, yang menyakiti sebenarnya
bukan manusia lain, tapi ekspektasi yang terlalu berlebihan yang menyakiti diri
sendiri. Kata orang cinta tak harus memiliki, akupun dahulu memiliki persepsi
seperti itu. Tapi akupun membuktikannya sendiri, bahwa perasaan memang seegois
itu, ia ingin memiliki dan tak ingin berbagi. Aku tidak mengatakan bahwa aku
mencintaimu. Kita terlalu berjarak untuk hal itu, terlalu asing untuk rasa itu.
Kamu yang sangat kharismatik
seiring berjalannya waktu mampu meruntuhkan perasaan ini. Tak ku pungkiri bahwa
ternyata sekarang aku menyukaimu. Menyukai karakter sifatmu, caramu berbicara,
cara mu tersenyum. Aku suka pribadimu. Kata orang, aku menyukaimu karna kamu
memiliki “tampang”, tapi bagiku, itu adalah bonus.
Tak semua rasa memang harus
diungkapkan, seperti halnya rasa ini. Mustahil jika aku harus menyampaikan hal
ini langsung padamu, biarkan sajak ini yang mengungkapkannya. Tapi sebenarnya,
aku takut jika kau tau tentang hal ini. Aku tak siap.
Ada kalanya aku merasa lelah dengan
hal ini, dan pada saat itu aku merasa sangat egois. Sebab, aku dan kamu terlalu
asing. Untuk apa aku berekspektasi sebesar ini? Tentu secara perlahan ekspektasi
ini menyakitiku. Tapi, ada kalanya aku merasa sangat kuat, dan kala itu aku
merasa menjadi wanita paling hebat, pemeran terbaik dalam kisah ini, namun
akupun merasa menjadi pembohong terbesar seantero dunia. Huft.
Komentar
Posting Komentar