teruntuk lelaki yang menemani masa putih abu-abu seorang aku;
yang mengajarkan ku banyak hal,
yang mewarnai masa pendewasaan ku,
yang memperkenalkan berbagai warna,
yang selalu menjadi alasanku untuk masuk sekolah,
yang menjadi penyemangatku untuk menggapai semua mimpi yang pernah ku tulis,
yang tanpa lelah menemaniku untuk mencapai titik puncak,
yang selalu menjadi rumah disaat hariku sedang buruk,
yang ku sebut dengan teman hidup, dulu.
meski kini kita berujung pada asing, tak lagi pada saling, dan berjalan dijalannya masing-masing. kini kita tak lagi menggenggam, tak lagi saling mengingatkan. tak lagi menopang saat salah satu diantaranya terpuruk, tak lagi memasang badan saat salah satu diantaranya menghantam batu karang, tak lagi memberikan pundak saat salah satunya mengalami hari yang buruk. tak lagi saling mendengarkan.
bukan hari yang baik saat mendengar kabar kamu telah berdua. berkali-kali lipat luka nya saat kita berujung pada pisah waktu itu. disaat itu pula aku harus benar-benar meninggalkan kita. sebab aku harus menepati ucapan ku dulu "cuman tiga hal yang bisa bikin aku pergi; restu keluarga, perlakuan dan permintaan mu, dan kamu berada didalam hubungan sama orang lain."
dan disaat hal ketiga terjadi, aku menghentikan semua harapku. meski aku tetap berharap bahwa ini hanya sementara dan berujung kamu kembali. hingga satu tahun lamanya aku menyembuhkan luka ini, dan kemudian memberanikan diri untuk membuka lagi hati ini. meski akhirnya kapal ini kembali karam.
tapi aku tak sepenuhnya menyalahkanmu, terlebih aku merasa bahwa ini salahku. jika saja saat itu aku lebih memperhatikan kita, pasti tak pernah ada kata pisah saat itu. namun untuk salah menyalahkan sudah tak ada gunanya lagi, sebab takkan merubah apapun.
meski saat ini kita sudah sama-sama kembali dengan sendiri. namun masih saja ada sesuatu yang menghalangi untuk aku kembali lagi bersama kita. entah sesuatu itu apa, aku sendiri pun masih belum paham. sebab jauh di lubuk sana, aku jelas masih mengharapkan kita.
meski kini kita saling bungkam, bersikap acuh tak acuh. tapi ku harap kita masih difrekuensi yang sama, sebab masalah rasa, tak ada yang berubah.
aku masih ingin menunggumu dikehidupan yang baru.

Komentar
Posting Komentar